Mengenang Perjuangan Kyai Kholil Bangkalan -->
Cari Berita

Advertisement

Mengenang Perjuangan Kyai Kholil Bangkalan

Sabtu, 24 Maret 2018



"Perjuangan yang tak pernah pudar, sosok kiai yang dilahirkan untuk mengemban amanah membela tanah air dan berdakwah demi terciptanya kesejahteraan".(KH. Muhammad Kholil Bangkalan)


ARTIKEL, Ruangaspirasi,- Mungkin ini sosok kiai yang jarang dibicarakan dimedia-media massa seperti permata yang tak terindahkan. Namun dikalangan santri, kiai ini tidak lagi asing “KH. Muhammad Kholil”, beliau dilahirkan di Madura tepatnya di daerah bangkalan, lahir pada hari selasa, 11 jumadil akhir 1225 H, bertepatan dengan tahun 1835. maka dari itu beliau sering dipanggil kiai kholil bangkalan.

Kehidupan beliau dari sejak kecil Cukup menarik dan bisa kita jadikan cermin. Contoh kecil dari riwayat hidupnya sejak masih belia, beliau sering ditinggal ayahandanya untuk berdakwah, beliau tumbuh semakin dewasa dan mempunyai karakter pemimpin persisis sama seperti nenek buyutnya Sunan Gunung Jati.

Langkah pertama kiai kholil bangkalan mengenyam pendidikan yaitu ayahnya (KH. Abdul Latif) yang secara ketat mengajarinya persoalan islam, terutama bagaimana islam mengatur kehidupan manusia sehari-hari.M

enginjak usia dewasa kiai kholil semakin kehausan ilmu agama seperti ilmu fiqh dan nahwu yang sangat beliau tekuni, sampai-sampai beliau menghafal Alfiah. Dengan kesemangat kiai kholil menggali ilmu, tersebar persepsi masyarakat terhadap persantren kiai kholil yang identik dengn kitab Alfiah Ibnu Malik.

Ada satu hal yang sangat unik ketika beliau mendidik para santrinya yaitu semua santri yang dibinanya tidak diperbolehkan pulang dari pesantren kecuali sudah teruji menghafal Alfiah sebanyak 1000 bait. Maka tak heran bahwa santri kiai kholil bangkalan banyak yang menjadi tokoh masyarakat akibat didikannya. Out put keluaran dari pesantren kiai kholil tidak diragukan lagi dalam membaca kitab kuning atau kitab gundul. System seperti ini yang sampai saat ini masih diaplikasikan oleh beberapa pesantren di Indonesia.

Setelah beberapa lama beliau belajar dipesantren bangkalan dan dirasa cukup, kiai kholil melanjutkan belajarnya dipulau jawa dimulai sekitar tahun 1850-an, ada beberapa pesantern yang pernah beliau singgahi diantaranya Pesantren Langitan Tuban jatim, P. cangaan bangil jatim, P. kebon candi pasuruan dan yang terakhir P. sidogiri pasuruan. Tak cukup ditanah jawa kiai kholil diperintahkan gurunya untuk melanjutkan belajarnya kemekkah al-Mukarromah.

Seperti halnya para ulama’ dan kiai, beliau melakukan perjuangan dimulai dari menjadi seorang pendidik dan pengajar, juga mendirikan pondok pesantren didaerah cengkububan. Setelah kepulangan beliau dari Mekkah, kiai kholil dikenal sebagai seorang ahli fiqh dan thoriqoh. 

Karena kealiman dan keilmuan agama sudah melekat pada diri beliau banyak mendapatkan santri yang tidak hanya berasal dari daerah sekitar, beliau juga menemukan santri yang mampu mendirikan Organisasi Masyarakat Nahdratul Ulama’ (NU) yaitu Hasyim Asy’ari dari jombang. Butuh kesabaran yang cukup besar untuk mengembangkan pondok pesantren yang semakin disegani banyak kalangan karena beliau harus mengajari santrinya dari berbagai nusantara.

Kiai kholil tidak hanya berjalan dalam lingkup pesantren, beliau juga mampu melayani masyarakat dari segala golongan dengan cara berdakwah. Coba kita lihat lagi perjuangan kiai kholil melawan para penjajah, pada saat itu banyak terjadi gejolak pertentangan antara penjajah dan ulma’atau kiai. Beliau mempunyai cara tersendiri untuk melawan penjajah yang pertama melalui jalur pendidikan. Melalui jalur ini, beliau mencetak pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas kepada agama maupun Negara. Perjuangannya melawan penjajah tidak dilakukan secara terbuka tapi lebih bermain dibalik layar.

Ketabahan serta usaha yang terus dilakukan oleh kiai kolil bengkalan akhirnya mampu melahirkan dan mendidik masyarakat maupun santrinya menjadi manusia yang bermanfaat terhadap agama maupun Negara, sehingga beliau disebut sebagai guru inspirator yang mampu merubah nasib kaum muslim untuk mencapai kesejahteraan.

Hingga tugasnya selesai, kiai kholil bangkalan akhirnya pergi kerahmatullah pada usia 90 tahun tepatnya 29 ramadhan 1343 H. beliau demakamkan di bangkalan, lokasinya pun tidak jauh dari pondok pesantrennya. Sepatutnya kita banya berterima kasih atas jasa yang sudah beliau lakukan dengan ikhlas demi kemaslahatan ummat.