Pesantren Dan Citra NKRI
Cari Berita

Advertisement

Pesantren Dan Citra NKRI

Senin, 08 Oktober 2018


ARTIKEL, (Ruangaspirasi.net) Layaknya gadis yang rupawan, pesantren kini menjadi perhatian banyak pihak.  Pasalnya sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah berhasil memproduksi bibit-bibit unggul generasi bangsa. Seperti Kh. Hasyim Asy’ari, Kh. Wahid Hasyim, Kh. Abdurahman Wahid, dsb. Meraka adalah jebolan-jebolan pesantren yang telah memberikan sumbangsi besar terhadap pembentukan Negara ini. Pesantren juga hadir merespon situasi dan kondisi suatu masyarakat yang dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral atau bisa disebut perubahan sosial.

Dengan karakter dan ciri khasnya, pesantren telah membuktikan eksistensinya dan bertahan di tengah pergulatan arus modernitas dan globalisasi. Pesantren tidak pernah surut dan berdiam diri dalam mengembangkan visi dan misinya sebagai lembaga pendidikan dan media dakwah yang berorientasi kepada terbangunnya nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin.

Di dalam pendidikan pesantren, terdapat proses penanaman nilai-nilai ke Indonesiaan secara Kaffah dan nilai-nilai ke Indonesiaan secara umum. Pesantren mempunyai komitmen untuk menjaga nilai-nilai budaya yang sesuai dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Peran Pesantren Menjaga Kedaulatan NKRI 

Sejarah tidak dapat dipungkiri, kebasaran bangsa Indonesia tidak lepas dari peran aktif pesantren, kyai, beserta santri dalam berbagai kiprah dan perjuangannya. Pada masa kejayaan nusantara, pesantren yang dikomandoi oleh para walisongo telah melakukan akomodasi dan transformasi sosio-kultural terhadap masyarakat. Dengan tradisi keilmuan yang dikembangkan oleh walisongo, masyarakat dan santri diajarkan tentang nilai-nilai keislaman, tentang kebersamaan-solidaritas, kemandirian dan kesatuan sebagaimana terbentuk imajinasi nusantara yang kompleks.

Dalam konteks sejarah kemerdekaan, kita tidak boleh mengesampingkan peran pesantren, pesantren tidak hanya hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran islam, tapi menjadi sentral bangkitnya kesadaran nasionalisme. Ulama sebagai pemimpinnya mengajarkan kepada santri dan masyarakat tentang perlunya mempertahankan tanah air, menyelamatkan bangsa dan merebut kembali kemerdekaan. Dengan memperjuangkan tanah air berarti kita telah berjuang untuk menegakkan agama.

Salah satu buktinya, pada tahun 1512 M terjadi perlawanan yang dilancarkan oleh kesultanan Demak dan kesultanan Aceh untuk merebut Malaka yang telah di kuasai oleh imprealisme Portugis. Selanjutnya perang melawan imprealisme Belanda yang menduduki Jayakarta pada 1619. Kedatangan Belanda tidak hanya untuk mendapatkan rempah-rempah, namun juga memindahkan perang agama, yakni kontra antara reformasi Katolik dengan reformasi Protestan dari Eropa ke wilayah jajahan di Asia Afrika. Melihat situasi seperti itu, ulama yang dari kalangan pesantren di abad ke 17 M  membangkitkan kasadaran masyarakat dengan semangat nasionalisme anti imprealisme.

Kemudian perang Diponegoro pada tahun 1825-1830. Berawal dari perlakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak. Diponegoro menentang Belanda secara terbuka, beliau menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan meghadapi kaum kafir.  Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Perlawanan ini juga menunjukkan sebuah simbol mujahidin (pejuang) masyarakat Jawa dalam perjuangannya melawan kolonial belanda dengan melibatkan ulama dan para santri.

Termasuk, terbentuknya Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah menjadi bukti historis yang tidak terbantahkan peran ulama-santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Peran serta kyai dalam membakar semangat dan moril terlihat ketika berusaha memaknai perjuangan membelah tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Kemudian, seruan resolusi jihad oleh Kh. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 menjadi pegangan bagi kalangan islam dan masyarakat dalam melakukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan menghadapi tentara NICA-Belanda dan pasukan Inggris. Resolusi jihad ini mewakili sikap sebagian besar bangsa Indonesia, bahwa tindakan NICA-Belanda dan Inggris merupakan tindakan yang telah melanggar kedaulatan Negara dan Agama. Maka sudah seharusnya bagi ummat Islam Indonesia untuk melakukan pembelaan terhadap tanah airnya dari bahaya dan ancaman kekuatan asing.

Dari peristiwa sejarah tersebut, terbaca betapa agungnya nilai-nilai kemerdekaan Bangsa, Negara dan Agama. Apalah arti damai jika dijajah dan tiada kemerdekaaan bernegara, berbangsa dan beragama. Maka para ulama dan santri memilih langkah melakukan perlawanan dan mengangkat senjata sebagai jawabannya.

Begitu juga dalam menghadapi tantangan globalisasi hari ini, pesantren melakukan filterisasi atas perkembangan teknologi informasi saat ini yang telah menguasai sendi-sendi kehidupan. Nilai-nilai positif dan baik yang tentunya diterima oleh pesantren. Sedangkan nilai-nilai negatif yang bertentangan dengan agama dan pancasila ditinggalakan. Hal sedemikian dapat terjadi karena prinsip pesantren “al-muhafadhatu ala al-qadimis shaleh wal-akhdu bil jadidil ashlah” (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Artinya pesantren saat ini sudah terbuka dengan segala perubahan tanpa pernah menghilangkan entitas diri pesantren.

Dengan demikian, pesantrenlah yang selama ini membangun watak dan karakter bangsa (national building). Pesantren sebagai lembaga pendidikan tetap survive dan concern dalam mengaktualisasikan pendidikan bangsa, tidak hanya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) atau aspek intelektualitas, melainkan juga membangun karakter berselera Indonesia dangan moralitas dan spritualitas bangsa yang luhur.

Hal yang lebih esensial, pesantren telah menumbuh kembangkan nilai-nilai transendental, ketimbang hal-hal yang bersifat material. Pengabdian pesantren kepada masyarakat dan lingkunganya ini merupakan manifestasi dari nilai-nilai dalam islam, yakni cinta tanah air sebagian dari iman.

Penutup

Agar citra NKRI dan kebesaran Nusantara tidak hanya menjadi dongeng sebelum tidur. Penulis mengajak kepada generasi bangsa, khususnya kalangan pesantren (santri) untuk meneguhkan kembali semangat nasionalisme dan mengkobarkan semangat “resolusi jihad” dalam diri kita. Karena dengan semangat inilah, kita dapat menjaga marwah bangsa ini dari ancaman globalisasi dan terorisme yang dapat menggerogoti hakikat dan martabat wujud kebangsaan kita yang plural-humanistik dan cinta perdamaain (Ukhuwah Wathaniyah).

Penulis: Abd. Rauf