PC PMII Kota Pontianak Gelar Dialog Publik: Menolak Fanatisme dan Politik Identitas
Cari Berita

Advertisement

PC PMII Kota Pontianak Gelar Dialog Publik: Menolak Fanatisme dan Politik Identitas

Kamis, 21 Februari 2019

PC PMII Kota Pontianak Gelar Dialog Publik: Menolak Fanatisme dan Politik Identitas

PONTIANAK, (Ruangaspirasi.net) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Pontianak menggelar dialog publik dengan tema "Menolak Fanatisme dan Politik Identitas". Rabu, (20/02/2019)

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Magister Ilmu Sosial Universitas Tanjungpura Pontianak, dihadiri oleh Walikota Pontianak yang diwakli oleh Rizal, S.Sos, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir,SIK,MH selaku Kapolresta Kota Pontianak, perwakilan Bawaslu Kota Pontianak Dr. Ridwan, Deni Nuliandi dari KPU Pontianak, Dr.Baihaqi, S.HI., M.A sebagai Akademisi dan Pengamat Politik NU. Termasuk, diikuti ratusan mahsiswa dari berbagai OKP kampus GMKI, PMKRI, serta ketua dan kader PMII mulai dari pengurus PKC PMII Kalimantan Barat sampai kepengurus Rayon se Pontianak.

POPULER: Mobil Merah dan Jejak Perjuangan KH. Ahmad Sufyan 

Farizal Amir selaku ketua PC PMII Kota Pontianak yang baru dilantik beberapa minggu lalu menyampaikan, tujuan mengangkat tema ini karena Kalbar sangat rawan konflik, ia berharap semoga dengan adanya dialog publik bisa menjadi motivasi terutama kepada mahasiswa.

“Tujuan mengadakan dialog ini untuk mengatasi permasalahan yang berada di Kalbar, karena sangat rawan ketika pemilu," ungkap Farizal.

Di sisi lain Muammar kadafi selaku PKC PMII Kalbar, mengucapkan terimakasih kepada Kapolresta dan kepada seluruh pemateri atas kehadirannya. Kadafi menjelaskan kestruktural ke PMII an mulai dari Rayon sekampus sampai Pengurus Besar PMII. PMII adalah anaknya Nahdlatul Ulama (NU) yang telah diajarkan oleh GUSDUR. Ia pun berharap agar seluruh Cipayung Pontianak bisa diayomi dan dibimbing oleh Kapolresta.

“Terimakasih atas kehadirannya Kapolresta Kota pontianak, semua pemateri dan seluruh peserta dialog," pungkasnya.

VIDEO PILIHAN

Dialog tersebut dibuka langsung oleh Rizal, S.Sos selaku perwakilan dari Walikota Pontianak, sebelum membuka dialog Rizal menyempaikan beberapa hal, khususnya permohonan maaf karena Walikota dan Wakil Walikota Pontianak tidak bisa hadir.

"Mohon maaf Walikota tidak bisa hadir karena bapak Walikota menghadiri wisuda putranya di Surabaya, sedangkan wakil Walikota berada di Jakarta ada agenda penyerahan aset-aset," katanya.

Rizal mengapresiasi kepada PMII Pontianak karena telah mengajak berdialog dengan tema "Menolak Fanatisme dan Politik Identitas", jika tidak dikelola dengan baik maka akan terjadi desentrelasisasi kepada bangsa. Ia juga menjelaskan bahwa Pontianak Kalbar khususnya berada di urut ketiga garis merah rawan konflik. Menurutnya, sudah ada 20 kali konflik semenjak adanya pemilihan, ia menitipkan kepada PMII agar gencar mengadakan dialog dengan masyarakat.

"Saya berharap agar kegiatan seperti ini semakin terbuka, undang seluruh masyarakat meskipun mengadakan di cafe tidak jadi maslah intinya kegiatan yang bersifat positif," pungkasnya

POPULER: Hadiri Haul KH. Ahmad Sufyan, Ini Yang Disampaikan Sandiaga Uno

Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, SIK, MH selaku Kapolresta Kota Pontianak menyampaikan, pola pikir manusia menentukan kemajuan bangsa, salah satu faktor terjadinya fanatisme dan politik identitas karena terlalu mengedapankan egosentris. Kombes Pol Anwar juga menjelaskan, hadirnya fanatisme dan politik identitas disebabkan adanya kepentingan kelompok.

"Jika fanatik ini selalu dirawat maka akan terjadi konflik, disentralisasi, radikalisme, dan akan menyampaikan berita bohong. Maka dari itu Kombes Polresta Pontianak berharap kepada masyarakat agar tidak selalu merawat sifat fanatisme dan kepada semua kalangan agar berkampanye dengan baik jangan membuka aib orang lain," tegasnya

"Jangan sampai terjadi fanatisme cintailah Negara karena cinta Negara bagian dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman). Saya juga ingin mengajak kepada mahasiswa agar lebih berdemokrasi secara dewasa karena Indonesia adalah Negara demokrasi, jangan hanya ikut-ikutkan, agar tidak menjadi orang yang fanatik, tambahlah wawasan agar tidak menjadi seorang yang fanatik. Jika mendapatkan berita baca dulu jangan langsung shering akan tetapi saring terlebih dahulu agar mengatahui kepastiaanya," imbuhnya

Sementara Dr. Ridwan mengungkapkan, Saat ini yang sangat dikhwatirkan bukan hanya di dunia maya akan tetapi yang sangat khawatir ialah di dunia nyata, fanatik itu ibaratkan bid'ah. fanatik itu ada yang baik, bid'ah  juga ada yang baik, tidak semuanya jelek dan tidak semuanya juga yang baik. "Nah jadi, yang jelek itu buang," kata Bawaslu Pontianak

Lebih dari itu, ia menyampaikan bahwa dalam undang-undang diterangkan bahwa kampanye tidak boleh mejelek-jelekkan orang lain, "Fanatik boleh tapi jangan di publik sama orang lain," tegasnya

Di sisi lain, Deni Nuliandi KPU Pontianak menyampaikan, tidak semuanya fanatisme dan politik identitas adalah buruk. Hanya saja dikhawatirkan Politik identitas akan mengalahkan rasionalitas, untuk membenahi politik identitas maka perbaiki dari hal-hal yang kecil.

"Terkait politik identitas ini maka perlu di tata dari sekarang. Ikhtiar dari KPU tidak melarang politik identitas, namun KPU tidak menginginkan politik identitas yang buruk, boleh berpolitik identitas akan tetapi jangan menjelek-jelekkan orang lain, hal ini dijelaskan dalam undang-undang PKPU," pungkasnya

Dr.Baihaqi, S.HI., M.A, menyampaikan, untuk menangkal paham fanatisme dan politik identitas, masyarakat  membutuhkan pisau analisis. Terdapat empat pilar kebangsaan untuk menjadi pisau analisis, yakni:

Pertama, Tawazzun berkesesuaian dengan pancasila, maka Hablumminallah dan Hablumminanas harus seimbang,

Kedua, Ta'dul berkesesuaian dengan undang-undang, harus menempatkan sesuatu pada tempatnya dan harus berlaku adil.

Ketiga, Tawassut berkesuaian dengan NKRI.

Keempat, Man Hajjal Fikri harus menengahkan seseorang ibarat wasit, penengah itu tidak boleh condong ke kiri dan tidak boleh condong ke kanan,  jika wasit condong ke sebelah pihak maka permainannya akan kacau, maka dari itu jangan terlalu fanatic, etika santun jika punya etika santun maka akan berpolitik dengan santun, sesuai dengan binekha tunggal ika berbeda-beda akan tetapi tetap satu, NU mengajarkan tentang Tasammuh yaitu bertoleransi.


Penulis : Muhammad Rokib