Sabran Achyar Terapkan Penggunaan Batik Bagi Mahasiswa Baru UNTAN
Cari Berita

Advertisement

Sabran Achyar Terapkan Penggunaan Batik Bagi Mahasiswa Baru UNTAN

Senin, 07 Oktober 2019


Pontianak (ruangaspirasi.net) Dalam momentum hari batik nasional yang bertepatan pada tanggal 02 Oktober, masyarakat Indonesia mengenakan pakaian batik sebagai bentuk menjaga, merawat serta melestarikan budaya yang dimiliki oleh negara Indonesia, Rabu (2/10).

Batik merupakan salah satu budaya khas yang dimiliki oleh negara indonseia, sebagaimana semua masyarakt harus merawatnya. Terlebih dari itu kalangan generasi muda ataupun mahasiswa sangat penting untuk menyemarakkan pakaian batik  terutama dimomen hari batik nasional sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya yang dimiliki negara indonesia. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak.

Kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dari berbagai elemen, sebagaimana hari batik merupakan budaya yang salah satu aset bagi bangsa  Indonesia untuk dirawat. Budaya batik ini merupakan budaya khas masayrakat indonesia," ujar Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fisip Untan, Drs. Sabran Achyar, M.Si.

Diakuinya bahwa pihknya telah berupaya untuk menentukan jadwal agar mahasiswa baru bisa mengenakan pakaian batik.

“Saya sudah berusaha setiap hari rabu dan kamis akan diterapkan agar maba bisa memakai seragam batik,"ucapnya.

Pakaian batik itu, lanjut Sabran, bukan saja yang berasal dari jawa melainkan dari batik lokal juga merupakan budaya.

Seperti dari berbagai wilayah, sambas, pontianak dan lain sebagainya. Hal  itu juga sama, imbuhnya.
Ia mengatakan, jika kekreatifan para pengrajin batik itu terus ditingkatkan, maka Sabran meyakini akan ada peningkatan ekonomi bagi masyarakat ataupun negara.

Sebagaimana pada tahun 2018 lalu pihaknya telah melakukan berbagai agenda diantaranya, kegiatan mahsiswa mempraktekkan pembuatan batik yang telah bekerjasama dengan dinas perdagangan.

"Kita telah mempraktekkan pembuatan batik yaitu pada tahun yang lalu di laksanakan di digulis untan bekerja sama dengan dinas perdangangan," ungkapnya.

Sabran pun mengajak kepada semua masyarakat, mahasiswa dan semua elemen untuk lebih mencintai budaya-budaya masayrakat sendiri, dan Ia pun juga mengarapkan bukan hanya dilakukan oleh kalangan mahasiswa saja, akan tetapi dari semua instansi atau stagholder  bisa mendukung terhadap kekreatifan budaya batik, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten atau kota.

Meskipun, lanjutnya, dalam sejarah terdahulu pakaian batik hanya dipakai oleh oleh orang-orang kaya ataupun kerajaan yang dahulu disebut sebagai orang berkelas atas. Akan tetapi untuk saat ini tidak hanya terfokus padaorang kaya saja, melainkan semua orang di Indonsia telah mengenakan pakaian batik. 

"Dan bahkan batik itu bukan hanya dipakai pada saat aacara nikahan saja atau acara formal. Namun acara setiap hari juga bisa kita lakukan,"bebernya.

Sabran menilai, jika memakai batik secara serentak akan ada angin segar atau semangat dalam bekerja dan akan lebih bergairah serta mempunyai inisiatif tersendiri dari para pengrajin batik.

Sehingga harapannya bisa mempunyai inisiatif dari budaya lokal dan mungkin bisa mempunyai ciri khas tersendiri dari budaya lokal," harapnya.

Ia menerangkan pihaknya sejak dulu sudah melakukan perawatan yang baik terhadap budaya batik, namun selain itu harus ada juga dorongan dari pemerintah secara bantuan dana, sehingga kreatifitas mereka para pengrajin batik bisa terus meningkat.

“Dan yang terpenting adalah bagi mahasiswa agar harga batik bisa lebih murah, sehingga nantinya mahasiswa bisa memakai batik semua," katanya penuh harap.

"Dan untuk kedepannya akan terus melakukan perbaikan agar selalu tersistem sehingga para dosen dan mahasiswa bisa terus menggunakan pakaian batik," tukasnya mengakhiri.