IHSG Menghijau Didorong Sektor Perbankan, BNI Perkuat Infrastruktur Digital Bersama Finastra
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa lalu menunjukkan performa positif, ditutup menguat 63,58 poin atau setara 0,72 persen ke level 8.948,30. Setelah sempat bergerak fluktuatif di rentang 8.841,02 hingga 8.956,73, indeks akhirnya berhasil mendarat di zona hijau berkat dorongan saham-saham finansial dan sumber daya alam.
Di tengah sentimen pasar tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan performa yang cukup impresif dengan kenaikan harga saham sebesar 2,84 persen. Capaian ini melampaui rekan-rekan perbankan lainnya seperti Bank Mandiri yang naik 1,05 persen, Bank Central Asia yang bertambah 0,62 persen, dan Bank Rakyat Indonesia dengan kenaikan 0,54 persen. Sebaliknya, beberapa emiten besar lain seperti Indosat Ooredoo Hutchison dan Semen Indonesia justru mengalami koreksi.
Sentimen Global dan Bayang-Bayang “Profit Taking”
Kendati mencatatkan penutupan yang manis, para pelaku pasar perlu waspada menatap perdagangan hari Rabu ini. IHSG yang kini berada tepat di bawah level psikologis 8.950 diprediksi rentan berbalik arah atau rangebound. Tekanan eksternal datang dari bursa global, di mana Wall Street dan pasar Eropa kompak berakhir di zona merah.
Indeks Dow Jones tergelincir 0,80 persen ke 49.191,99, sementara S&P 500 dan NASDAQ juga melemah. Ketidakpastian prospek jangka pendek ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik—termasuk eskalasi hubungan AS dan Iran—serta beragam usulan kebijakan dari Presiden Donald Trump. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bahkan melonjak 2,61 persen ke level $61,05 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Situasi ini kemungkinan besar akan memicu aksi ambil untung (profit taking) pada bursa Asia yang belakangan ini menyentuh rekor tertinggi.
Transformasi Digital BNI untuk Efisiensi Layanan
Di balik pergerakan sahamnya yang solid, BNI terus memperkuat fundamental operasional melalui langkah strategis dalam teknologi finansial. Bank pelat merah ini resmi menggandeng perusahaan perangkat lunak global, Finastra, guna merevolusi proses onboarding nasabah. Kolaborasi ini bertujuan menyatukan operasi pembiayaan perdagangan (trade finance) domestik dan internasional ke dalam satu platform terpusat, yakni Finastra Trade Innovation.
Langkah ini diambil untuk menggantikan berbagai sistem warisan (legacy systems) yang terpisah-pisah. Sebelumnya, BNI mengoperasikan sistem lokal di kantor-kantor luar negeri. Kini, perseroan tengah merampungkan migrasi sembilan lokasi internasional ke satu instansi pusat di Jakarta. Sentralisasi ini tidak hanya menyederhanakan pemrosesan di tingkat grup, tetapi juga memastikan kepatuhan terhadap kontrol regulasi lokal tetap terjaga.
Dampak Nyata pada Kecepatan Operasional
Implementasi teknologi baru ini telah memberikan dampak yang terukur bagi kinerja bank. BNI melaporkan adanya percepatan dalam proses onboarding nasabah sekitar 25 persen. Berkat alur kerja kepatuhan yang kini terotomatisasi serta penerapan pemrosesan langsung (straight-through processing), siklus persetujuan menjadi jauh lebih singkat.
Sebagian besar persetujuan kini dapat diselesaikan dalam waktu satu hari. Bahkan, bank kini mampu memberikan sejumlah layanan dengan tingkat kesepakatan layanan (Service Level Agreement/SLA) di bawah tiga jam. Efisiensi ini terbukti efektif dalam mendukung bisnis, terlihat dari peningkatan akuisisi nasabah sebesar 10 persen pada tahun fiskal berjalan. Platform ini kini menopang pertumbuhan perdagangan digital di lebih dari 160 cabang dan melayani lebih dari 2.645 nasabah korporasi perdagangan.
Arsitektur terpusat yang dibangun bersama integrator sistem lokal ini juga memfasilitasi penerapan analitik canggih dan pemodelan risiko. Hal ini memudahkan BNI untuk melakukan integrasi dengan mitra teknologi finansial (fintech) maupun kecerdasan buatan (AI) di masa depan, menegaskan komitmen perseroan dalam upaya modernisasi berkelanjutan di tengah persaingan industri perbankan yang makin ketat.









