Gejolak Cincin Api: Erupsi Gunung Raung dan Dinamika Tektonik Alaska
Aktivitas geologi di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) kembali menunjukkan peningkatan signifikan dalam rentang waktu yang berbeda. Fenomena alam ini terekam mulai dari erupsi vulkanik di Jawa Timur, Indonesia, hingga gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Alaska Selatan.
Peningkatan Aktivitas Vulkanik di Jawa Timur
Gunung Raung yang berdiri gagah di perbatasan Kabupaten Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi kembali menggeliat. Pada Minggu pagi, 15 Juni 2025, gunung api aktif ini memuntahkan material vulkanik dalam erupsi yang cukup signifikan. Mukijo, Petugas Pos Pengamatan Gunung Raung, melaporkan bahwa erupsi terjadi tepat pukul 06.28 WIB.
Berdasarkan pengamatan visual, kolom abu vulkanik membumbung hingga ketinggian 1.200 meter di atas puncak kawah, atau setara dengan 4.532 meter di atas permukaan laut (mdpl). Asap kawah utama terlihat berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal, yang bergerak condong ke arah tenggara.
Data seismik selama 24 jam penuh pada Sabtu, 14 Juni 2025, merekam adanya gejolak internal yang intens. Tercatat empat kali gempa letusan dengan amplitudo 4 milimeter dan durasi berkisar antara 36 hingga 94 detik. Selain itu, instrumen juga menangkap satu kali gempa tektonik lokal dan satu kali gempa tektonik jauh. Yang patut diwaspadai, tremor menerus (microtremor) masih mendominasi dengan amplitudo 0,5 hingga 5 milimeter, menandakan adanya pergerakan fluida magma yang konstan.
Dampak dan Status Waspada
Dampak erupsi ini langsung dirasakan oleh warga di sekitar lereng. Hujan abu tipis dilaporkan mengguyur sejumlah desa di Kabupaten Jember akibat terbawa angin ke arah selatan. Sebagai respons cepat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat segera mendistribusikan masker untuk melindungi pernapasan warga dari bahaya abu vulkanik.
Hingga laporan ini diturunkan, status Gunung Raung masih bertahan pada Level II atau Waspada. Otoritas setempat dengan tegas melarang masyarakat maupun wisatawan untuk mendekati pusat erupsi dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak, termasuk larangan menuruni kaldera atau bermalam di kawasan tersebut demi keselamatan jiwa.
Gempa Tektonik di Alaska Selatan
Sementara itu, pergeseran lempeng bumi juga tercatat di belahan bumi utara. Sebuah gempa berkekuatan Magnitudo 3,6 mengguncang wilayah selatan Alaska pada 2 Februari 2026 pukul 15.27 waktu setempat (AKST), atau 3 Februari 2026 pukul 00.27 UTC.
Pusat gempa terdeteksi berada sekitar 25 mil (40 km) di selatan Gunung Api Iliamna pada kedalaman 54 mil (87 km). Guncangan ini merupakan manifestasi nyata dari kompleksitas tatanan tektonik Alaska Selatan, sebuah wilayah yang memang dikenal memiliki sejarah seismisitas tinggi.
Tiga Sumber Utama Kegempaan Alaska
Para ahli geologi memetakan bahwa gempa di kawasan Alaska Selatan umumnya dipicu oleh tiga fitur tektonik utama. Pertama, zona megathrust yang menjadi pertemuan antara Lempeng Pasifik yang menunjam ke bawah Lempeng Amerika Utara. Zona kontak inilah yang bertanggung jawab atas gempa-gempa raksasa, termasuk Gempa Besar Alaska tahun 1964 berkekuatan M 9,2 yang hingga kini tercatat sebagai gempa terbesar kedua di dunia.
Kedua, aktivitas seismik kedalaman menengah (di bawah 32 km) yang terjadi di Zona Wadati-Benioff. Zona ini terbentuk ketika Lempeng Pasifik turun menuju mantel bumi. Gempa terkini di dekat Gunung Iliamna kemungkinan besar terkait dengan mekanisme ini. Sebelumnya, gempa Iniskin (2016) dan gempa Anchorage (2018) yang sama-sama berkekuatan M 7,1 juga berasal dari zona ini, menyebabkan kerusakan infrastruktur yang cukup parah di wilayah selatan-tengah Alaska.
Sumber kegempaan ketiga berasal dari aktivitas kerak bumi dangkal. Hal ini mencakup sesar dan lipatan di cekungan Cook Inlet, Sesar Castle Mountain, serta zona seismisitas difus yang membentang hingga Sesar Denali. Struktur geologi di Cook Inlet bagian atas diketahui mampu memicu gempa kuat, seperti yang terjadi pada April 1933 dengan kekuatan M 6,9. Sesar Castle Mountain bahkan menunjukkan bukti pergeseran di era Holosen dan pernah memicu gempa Sutton M 5,6 pada tahun 1984.









