Mengamati Gerhana: Dari Langit Indonesia hingga Misi Artemis II di Bulan

Baru beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Selasa, 7 April 2026, publik disuguhkan deretan foto menakjubkan dari penerbangan misi Artemis II yang dirilis oleh NASA. Hasil jepretan para astronaut dari penerbangan uji coba bersejarah ini menjadi penanda penting kembalinya umat manusia ke kawasan sekitar Bulan. Menariknya, foto-foto yang diambil sehari sebelumnya itu merekam kawasan sisi jauh Bulan yang belum pernah disaksikan mata manusia mana pun saat pesawat melintas dalam durasi tujuh jam. Di luar dugaan, kru Artemis II bahkan berhasil menangkap fenomena sangat langka, yakni gerhana matahari yang terjadi langsung di luar angkasa.

Perspektif Baru Mengamati Langit

Melihat gerhana dari orbit Bulan jelas menawarkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan apa yang biasa kita amati dari Bumi. Bertahun-tahun lalu, fenomena langit semacam ini selalu kita nantikan kehadirannya dengan mendongak ke atas dari permukaan tanah. Kita bisa menengok kembali pada peristiwa gerhana bulan sebagian yang pernah menghiasi seluruh langit wilayah Indonesia pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019 silam. Kala itu, masyarakat menyambut antusias proses tertutupnya cahaya Matahari oleh Bumi tersebut.

Rorom Priyatikanto, Peneliti Pusat Sains Antariksa Lapan, saat itu memaparkan bahwa fenomena ini membuat cahaya tidak sepenuhnya sampai ke permukaan Bulan. Berbeda dengan pandangan eksklusif dan berteknologi tinggi dari pesawat luar angkasa Artemis II saat ini, gerhana tahun 2019 bisa dinikmati dari mana saja hanya dengan mata telanjang. Penggunaan teleskop maupun kamera tentunya sangat dianjurkan saat itu untuk mendapat pandangan yang lebih maksimal.

Jejak Gerhana di Nusantara

Pada peristiwa tujuh tahun lalu itu, proses gerhana terpantau berlangsung selama beberapa jam. Fase awal gerhana sebagian dimulai tepat pada pukul 03.00 WIB. Titik puncaknya kemudian menyusul pada pukul 03.42 WIB, sebelum fenomena ini perlahan berakhir pada pukul 05.59 WIB.

Bagi pengamat di Indonesia, bagian barat negara ini seperti Jakarta dan Medan menjadi area yang sangat strategis untuk menikmati momen tersebut. Sementara untuk masyarakat di bagian timur, gerhana sebagian ini terpantau secara terbatas, yang mana peristiwanya hanya bisa dilihat dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kini, seiring bergulirnya waktu hingga April 2026, cara manusia memandang interaksi antara Bulan, Bumi, dan Matahari telah bertransformasi pesat meninggalkan batasan atmosfer kita.