Menelusuri Jejak Melodi: Dari Kearifan Lokal Sulawesi Selatan hingga Nostalgia Panggung Pop Dunia

Dunia musik selalu menjadi wadah penyimpanan cerita, mulai dari nilai-nilai luhur yang tertanam dalam budaya tradisional hingga memori kolektif budaya pop modern. Di Indonesia, kekayaan seni suara tercermin kuat dalam deretan lagu daerah Sulawesi Selatan yang sarat makna. Sementara itu, di belahan bumi lain, gelombang nostalgia menyeruak ketika ikon pop era 2000-an, Hilary Duff, kembali ke panggung dengan membawa kenangan lama yang seolah hidup kembali. Kedua fenomena ini, meski terpisah jarak dan zaman, sama-sama menunjukkan betapa kuatnya musik sebagai pengikat emosi dan sejarah manusia.

Kekayaan Makna di Balik Senandung Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan memiliki khazanah musik tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga potret kehidupan sosial masyarakatnya. Salah satu yang paling melegenda adalah lagu Angin Mamiri. Berasal dari suku Makassar, lagu ini membawa pesan kerinduan yang mendalam. Secara filosofis, Angin Mamiri menggambarkan seseorang yang menitipkan pesan rindu melalui hembusan angin agar sampai kepada orang yang dikasihi. Bait liriknya yang berbunyi “Anging Mammiri Kupasang, Pitujui Tontonganna, Tusaroa Takka lupa” menjadi mantra magis yang melukiskan betapa dingin dan sepinya hati tanpa kehadiran sang pujaan.

Selain romansa, nilai estetika dan budi pekerti juga terekam dalam lagu Pakarena. Diciptakan oleh Arsyad Basir dan dipopulerkan oleh Aulia Anas serta Salma Rani, lagu ini menjadi pengiring tarian Pakarena yang ikonik. Liriknya menceritakan keanggunan suku Makassar dalam menari, mencerminkan kehalusan budi dan adat istiadat setempat.

Namun, tidak semua lagu daerah bernada riang atau romantis. Lagu Anak Kukang menghadirkan realitas sosial yang memilukan. Lagu ini mengisahkan kesedihan mendalam seorang anak yang ditinggalkan ibunya karena himpitan masalah ekonomi. Lirik “Kukana tuni pela tuni buang ritamparang” menyuarakan kepedihan seorang anak yang merasa terbuang, sebuah narasi sosial yang masih relevan hingga kini.

Keberagaman budaya di Sulawesi Selatan juga terlihat dari karya sastrawan berdarah Tionghoa, Hoo Eng Djie (atau Eng Dji). Ia melahirkan karya seperti Amma Ciang dan Ati Raja. Ati Raja sendiri memiliki makna spiritual yang kental, berisi ungkapan rasa syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lirik “Se’reji batara baule Ati Raja” menegaskan pengakuan akan keesaan Tuhan, menunjukkan bahwa akulturasi budaya telah lama terjadi harmonis dalam seni musik daerah ini.

Kembalinya Sang Idola dan Momen Magis di London

Jika lagu daerah Sulawesi Selatan merawat ingatan leluhur, di London, ingatan masa remaja generasi milenial baru saja dibangkitkan kembali. Hilary Duff, bintang yang bersinar terang di awal tahun 2000-an, akhirnya kembali menggelar konser pertamanya sejak tahun 2015. Memulai tur bertajuk “Small Rooms, Big Nerves” di O2 Shepherd’s Bush Empire, Duff menyuguhkan kejutan yang telah dinanti selama hampir dua dekade.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah karir musiknya, Duff membawakan lagu hits “What Dreams Are Made Of” secara langsung. Lagu ini merupakan soundtrack ikonik dari film “The Lizzie McGuire Movie” tahun 2003, di mana ia memerankan karakter tituler yang menjadi idola remaja pada masanya. Hingga kini, lagu tersebut telah diputar lebih dari 50 juta kali di Spotify, membuktikan daya tahannya melintasi zaman.

Dalam unggahan di Instagram, Duff menumpahkan perasaannya mengenai malam bersejarah tersebut. Ia mengaku masih sulit mencerna betapa luar biasanya energi penonton malam itu. Menurutnya, cinta dan kebersamaan yang ia rasakan jauh melampaui bayangannya tentang kembali ke atas panggung. Ia berterima kasih kepada penggemar yang telah berjalan bersamanya selama bertahun-tahun, merayakan masa lalu sekaligus menyambut masa depan. Baginya, momen itu adalah definisi nyata dari “apa yang diimpikan” (what dreams are made of).

Dinamika Baru dan Spekulasi Keluarga

Konser di London tersebut tidak hanya berisi nostalgia. Menurut laporan media setempat, Duff juga membawakan deretan hits lawas seperti “Come Clean”, “So Yesterday”, “Why Not”, serta reka ulang penampilan viralnya di acara “Today” show dengan lagu “With Love”.

Namun, perhatian publik juga tertuju pada sebuah lagu baru yang belum dirilis berjudul “We Don’t Talk”. Lagu yang diambil dari album mendatangnya ini memicu spekulasi di kalangan penggemar. Penggalan lirik yang berbunyi “Cause we come from the same home, the same blood / A different combination, but the same mom” (Karena kita berasal dari rumah yang sama, darah yang sama / Kombinasi berbeda, tapi ibu yang sama), kuat diduga merujuk pada hubungannya dengan sang kakak, Haylie Duff. Lirik tersebut menyiratkan adanya jarak dan pertanyaan emosional tentang perubahan hubungan di antara mereka.

Hilary Duff, yang kini berusia 38 tahun dan telah membintangi berbagai serial sukses seperti “Younger” dan “How I Met Your Father”, tampaknya siap membuka babak baru dalam karier bermusiknya. Album barunya yang bertajuk “Luck… Or Something” dijadwalkan rilis pada 20 Februari mendatang, menampilkan singel “Mature” dan “Roommates”.

Perjalanan tur Duff akan berlanjut ke Toronto pada 24 Januari, sebelum menyambangi Amerika Serikat untuk serangkaian pertunjukan, termasuk di New York dan residensi di Las Vegas. Bagi para penggemar, baik penikmat musik tradisional yang sarat filosofi maupun pecinta pop yang merindukan masa remaja, musik tetap menjadi bahasa universal yang mampu menyentuh sisi emosional terdalam manusia.