RAMADHAN BULAN MEMBACA
Cari Berita

Advertisement

RAMADHAN BULAN MEMBACA

Senin, 28 Mei 2018


Oleh: Achmad Nur

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan al qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan  mengenai petunjuk itu dan pembeda” (QS. Al baqarah, 185). 

ARTIKEL, (Ruangaspirasi.me) Ayat diatas menunjukkan bahwa di bulan ramadhan alqur’an diturunkan untuk di baca, di pahami, digali makna dan nilainya, kemudian nilai tersebut diterjemahkan dalam kehidupan. Sebagai bentuk penegasan tentang perintah tersebut, dapat dilihat pada surat al alaq sebagau surat yang pertama kali turun yang berisi perintah membaca, membaca dan membaca. Pengulangan kata tersebut bukan tanpa makna melainkan menyiratkan pentingnya membaca untuk menggali mutiara hikmah agar bisa dijadikan sebagai pedoman hidup. Sebagai bentuk penyegaran,dan penghargaan terhadap bulan membaca, tulisan ini akan menyajikan tentang gerakan membaca yang dilakukan oleh para nabi dan ulama.

Membaca bukan hanya sekedar melihat tulisan, melainkan juuga melibatkan kerja akal dalam merespon sebuah objek atau teks. Aktivitas akal inilah yang akrab disebut berpikir. Dengan demikian, aktivitas membaca merupakan aktivitas pengindraan ,dan berpikir secara bersama dan sinergi untuk mendapatkan infomasi dan memahami makna. Melihat fungsi dan tujuan di atas, Tuhan sebagai aktor jagat raya menyediakan ruang kepada para nabi, rasul dan seluruh manusia untuk membaca dirinya dan relitas diluar dirinya. Nabi adam diberi peluang untuk membaca dirinya dan membaca realitas yang ada disurga. Melalui membaca inilah Nabi Adam menginginkan seorang pendamping yang bisa mewarnai kehidupan di surga, dan juga melalui membaca, nabi adam dikeluarkan dari surga.

Nabi Ibrahim disediakan ruang dan objek berupa alam dan realitas masyarakat yang menyembah berhala. Berpijak pada objek tersebut nabi ibrahim membacanya secara kritis dan sistematis dengan mencari siapa aktor dibalik penciptaan alam. Pada awalnya, nabi Ibrahim berasumsi bahwa aktor jagat raya adalah matahari, bulan dan api. Namun setelah di baca, maka lahir kesimpulan bahwa tidak mungkin Tuhan saya tiada dan terbatas oleh ruang  dan waktu. Melalui hasil baca tersebut nabi ibrahim melakukan kritik yang berakhir pada penghancuran berhala berhala yang diyakini dan disembah oleh masyarakat. 

Sayyidah Hajar melakukan proses pembacan terhadap sikap Nabi Ibrahim ketika meninggalkan dirinya dan putranya di lembah yang tandus dan sepi. Prilaku Nabi Ibrahim tersebut membuat Sayyidah hajar bertanya landasan dan orientasi kepergiannya, hingga kemuudian melahirkan pertanyaan yang berisi jawaban persetujuan “baiklah wahai suamiku, kalau kepergianmu merupakan perintah Tuhan, aku dan putramu rela hidup berdua bersama  lindungan Tuhan”. Sebagai generasi yang lahir dari keluarga yang gemar membaca, Nabi Ismail melakukan pembacaan terhadap informasi yang disampaikan oleh ayahnya tentang perintah Tuhan untuk mengorbankan dirinya “apakah itu perintah tuhan? Kalau memang itu perintahnya, laksanakan, aku siap menerimanya”. 

Sebagai penerus dan pengikut agama Ibrahim, Nabi Muhammad melalui Islam  melakukan pembacaan terhadap realitas masyarakat arab kedalam dua level: pertama, level edukatif, yaitu sebuah usaha pembebasan para budak dalam menegakkan pendidikan, dan proses pembelajaran, yang dalam hal ini rasulullah membebaskan tawanan perang yang mau mengajar baca tulis pada sepuluh orang muslim. kedua, level ekonomi politik, yaitu sebuah usaha pembebasan budak, atau rakyat kecil yang tertindas dari sistem ekonomi politik yang bercorak feodal kapitalis..Fenomena tersebut dapat dilihat dari tindakan  para kaum borjuis atau saudagar saudagar kaya di makkah yang banyak membuat konglomerasi antar suku dan memonopoli perdagangan di kawasan kerajaan Byzantium, dengan tujuan mengambil keuntungan tanpa mau memperhatikan kepada masyarakat proletar atau mustadh’afin.

Senada dengan asumsi diatas, Ali Syariati mempertegas bahwa Muhammad SAW dengan bekal wahyu Allah menyerang terhadap para kapitalis, pedagang budak makkah, pemilik perkebunan di thaif, terhadap kisra raja raja sasania iran dan kaisar romawi. Dengan bekal membaca secara kritis dan sistematis, Nabi Muhammad berhasil menyebarluaskan Islam di semenanjung Arab dan mampu menguasai Persi dan Romawi.

Generasi ke generasi berlalu seiring dengan laju zaman, budaya  membaca tetap terlestari bahkan menjadi ikon kecerdasan dan ketokohan, dan disiplin keilmuan seseorang. Dalam konteks, imam Madzhab, Abu Hanifah belajar hadits pada anas bin mailik, kemudian membacanya secara dinamis sehingga melahirkan karya kitab berjudul fiqhul akbar. Malik bin anas pendiri madzhab maliki, berguru dan membaca kitab abu hanifah sehingga melahirkan kitab al muwattha’. Imam Syafi’i belajar dan membaca pemikiran imam malik sehingga mampu menciptakan pemikiran tentang ushul fiqh yang tertuang dalam kitab Ar-risalah, pemikiran tentang fiqh tertuang dalam kitab Al Um. Berdasar pada pemikirian dan kitab imam syafi’i, imam ahmad bin hambal membacanya secara kritis dinamis sehingga melahirkan kitab Al Musnad.

Pada level kajian filsafat Islam, Imam Al Gazali kerap bersentuhan dengan teks filsafat yunani dan filsafat Islam yang membuatnya gemar membaca tidak pernah berhenti berpikir dan berkarya. Kegemaran membaca mengantarkan al Gazali sebagai seorang filosof dan Sufi yang memiliki beberapa karya: maqosidul falasifah merupakan karya pertama yang berisi tentang cara berpikir dengan tepat dan benar yang akrab disebut dengan logika (mantiq), Tahafut al Falasifah meruupakan karya yang mengkritik filsafat setelah lama besentuhan dan mengenal filsafat. Sebagai penguat dan keberlanjutan kritik filsafat, algazali menulis kitab al muunqidz minaddholal. Setelah lama berkelana dalam dunia filsafat al gazali menghabiskan sisa hidupnya dengan memasuuki dunia tasawuf. Ihya’ulumuddin merupakan magnum opus dalam kajian tasawuf dan di akhir hayatnya al Gazali menyelesaikan karya terakhirnya di sebuah Goa yang berjudul kim’iyatussa’adah yang berisi tentang kiat kiat hidup bahagia.

Beberapa data sejarah diatas membuktikan bahwa Tuhan merancang dan merencanakan segala bentuk penciptaan agar di baca, dan dipahami serta di kreasi oleh manusia. Tuhan berkomunikasi dengan manusia untuk di baca dan dibunyikan dengan serangkaian makna makna. Melalui membaca Tuhan memuliakan manusia, Melalui membaca manusia bisa mengetahui realitas dalam dirinya dan diluar dinya, melalui membaca manusia memiliki karya atau produk pemikiran sebagai identitas diri, dan melalui karya inilah manusia bisa hidup dan dikenang sepanjang masa. Dengan demikian, membaca adalah perintah agama dan agama adalah peristiwa membaca.

Penulis adalah dosen Stainh, ketua Lakpesdam, ketua Komisi Pengkajian dan pengembangan MUI Situbondo.