Kisah mengharukan Dicha Larasati yang berjuang melawan penyakitnya ditengah keterbatasan biaya
Cari Berita

Advertisement

Kisah mengharukan Dicha Larasati yang berjuang melawan penyakitnya ditengah keterbatasan biaya

Sabtu, 21 Juli 2018

Assalamualaikum, Bunda dan Ayah!
Apa kabar? Semoga kalian sehat yah. Biar aku saja yang merasakan sakit.

Perkenalkan namaku Dicha Larasati, panggil saja Dicha. Aku tinggal bersama Bunda, Ayah tiriku, serta adik kecilku, Aura. Aku adalah anak yang luar biasa, berbeda dari teman-temanku.

Sejak usiaku dua bulan, aku sudah didiagnosa penyakit kelainan darah. Lalu, saat usiaku memasuki 4 tahun, dokter memberi tahu kalau aku menderita Bernards Solier Syndrom. Dan diusiaku yang ke-lima, Hepatitis B juga bersarang ditubuhku.

Aku anak ke-empat dari lima bersudara, tapi hanya adik bungsuku Aura yang masih bersamaku. Kakak pertama dan adikku sudah meninggalkanku karena kebocoran jantung. Kakak keduaku meninggalkanku karena penyakit kelainan darah.

Aku bangga dan sayang sekali pada ayah dan bunda. Tapi sayang, semenjak aku koma beberapa bulan yang lalu, aku sulit mengenali mereka lagi. Ingatanku hilang dan kemampuan motorikku kembali seperti waktu kecil dulu.

Sungguh, aku tidak ingin seperti ini. Aku tau ini pasti sangat menyakitkan bagi bunda dan ayahku.

Beberapa bulan yang lalu aku sempat koma, tapi Allah masih sayang padaku dan mengizinkanku kembali bermain bersama bunda. Senyum ayah bundaku kembali mekar menghiasi bibir manis mereka.

Bunda seorang ibu rumah tangga yang senantiasa manjagaku dan adikku di rumah. Sementara ayahku, ia bekerja di bengkel dengan gaji harian.

Terhitung sejak 28 Juni sampai saat ini, aku kembali berbaring di ruang PICU bersama jarum suntik, selang, dan kabel yang menempel di tubuhku.

Ingin rasanya aku menahan air mata dan rasa sakitku ini agar bunda dan ayah tidak menangis, tapi aku tidak sanggup menahannya.

Suhu badanku yang mencapai 40.8°, memecahkan pembuluh darah hidung dan telingaku. Badanku membengkak, sesekali penyakit ini sangat menyakitiku. Aku tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya dari ayah bundaku.

Obatku yang begitu mahal dan tak di tanggung BPJS, lagi-lagi membuat hatiku sesak melihat ayah dan bundaku. menebusnya harus membayar Rp. 2.590.000,-, sedangkan obat itu harus masuk ke tubuhku setiap hari.

Tangisan bunda pecah saat itu, dimana lagi harus mencari uang sebesar itu? Barang-barang di rumah telah habis terjual, termasuk kursi roda dan mainan kesayanganku.

Ya Allah, sembukanlah aku. Besok, tanggal 21 Juli ini usiaku tepat 8 tahun. Aku ingin sehat dan merayakan ulang tahunku bersama ayah bunda. Melihat badut dan mendapat banyak kado dari teman-temanku.

Bunda dan ayah yang ada di luar sana, bolehkah aku meminta tolong pada kalian?

Bantu bunda dan ayahku. Bantu mereka dengan apapun yang kalian bisa dan ikhlas. Doa, semangat, kepedulian kalian sangat berarti untuk kami. Meng-share ceritaku ini pun sudah sangat membantuku.

Terimakasih sudah berkenan membaca ceritaku ini. Semoga Kalian semua selalu sehat, murah rezeki, dan tidak pernah mengalami sakit seperti aku.

Salam Manis,
Dicha Larasati

#DonasiUntukDicha
#RSUDBalikpapan