Destinasi Wisata Buku, Mungkinkah? -->
Cari Berita

Advertisement

Destinasi Wisata Buku, Mungkinkah?

Kamis, 30 Januari 2020

Destinasi Wisata Buku, Mungkinkah?

ARTIKEL (Ruangaspirasi.net) Destinasi wisata menjadi bahan perbincangan oleh banyak kalangan, dari golongan muda hingga kelompok tua, apalagi menjelang liburan panjang atau tahun baru, masyarakat kita membidik obyek wisata yang menawarkan keindahan alam dan panorama yang eksotis. Gejala ini menarik untuk direspon di tengah maraknya Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Desa yang begitu getol membangun infrastruktur pariwisata. Hal ini sangat berbeda perlakuan Pemerintah Daerah atau Desa yang tak juga menunjukkan keberpihakannya terhadap gerakan literasi. Ini tentu menjadi PR bagi relawan pustaka bergerak, pustakawan terutama di Perpustakaan Daerah untuk lebih kreatif memanage perpustakaannya, sebab hingga hari ini perpustakaan masih terkesan seperti gudang buku dan kurang diminati oleh pelajar apalagi masyarakat umum.

Perpustakaan (rumah baca, taman baca) hendaknya keluar dari stigma jelek sebagai gudang buku, termasuk para penggiat literasi dituntut untuk kreatif melakukan terobosan dalam upaya meningkatkan kuantitas pembaca di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin deras, pengelola perpustakaan hendaknya berupaya untuk terus berinovasi dan membangun komunikasi dengan berbagai kalangan untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan yang edukatif menyenangkan dan banyak diminati.

BACA JUGA: Harapan Baru Bersama Kepala Desa Baru

Masyarakat kita sesungguhnya tidak rendah minat bacanya, hanya saja bahan bacaan dan ketersediaan tempat baca yang masih kurang memadai. Sudah tak lazim lagi kita menghukumi masyarakat dengan sebutan rendah minat bacanya sebelum kita benar-benar telah menyiapkan tempat dan buku bacaan yang beragam serta menyesuaikan lingkungan atau yang kita kenal dengan kearifan lokal. Bagaimana mungkin anak-anak di gunung minat membaca jika koleksi buku yang tersedia lebih banyak bacaan tentang perahu, rumput laut dan lainnya. Begitupun sebaliknya bagaimana mungkin anak anak-anak pesisir tertarik membaca buku jika bacaan yang disuguhkan lebih banyak tentang budidaya buah naga, bawang putih, dan buku budidaya lainnya, dan yang sangat naif lagi adalah saat kita mendapati perpustakaan sekolah hanya berisi tumpukan LKS yang sudah tak terpakai dan buku-buku paket pelajaran sekolah saja.


Sekarang pertanyaannya adalah, mampukah perpustakaan bersaing dengan pariwisata? Para penggiat literasi hanya mengandalkan nurani dan kerelaan untuk bergerak menjajakkan bacaan ke masyarakat, sementara anggaran pengadaan buku serta fasilitas lainnya khususnya di pelosok Desa masih menjadi bahasa kuno yang kurang dipahami oleh Pemerintah. Perpustakaan mesti dikelola secara profesional dan semenarik mungkin, perpustakaan wajib melakukan gerakan perubahan agar perpustakaan tidak kalah menarik dari obyek wisata, bisa bekerjasama dengan BUMDes setempat dengan konsep warung kopi dan pojok baca atau perpustakaan berkolaborasi dengan pengelola wisata menempatkan pojok baca di sudut-sudut wisata dengan ragam bacaan yang sesuai dengan selera para pengunjung.

BACA JUGA: Bupati Sumenep dan DPRD Jatim Jalin Silaturahim Bersama Diaspora Ra'as, Ini Aspirasi Warga Ra'as

Untuk mewujudkan impian wisata buku atau menjadikan perpustakaan yang tak kalah populer dari pariwisata, diperlukan sinergi antara pengelola perpustakaan bersama pemerintah (khususnya Desa) dan penggiat literasi lainnya untuk saling bahu membahu melakukan terobosan yang inovatif, terus berupaya menyelenggarakan kegiatan literasi yang bisa menarik perhatian pelajar atau masyarakat umum dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat undang-undang. Kita berharap masyarakat cerdas, desa berkualitas.

Penulis: Kurdianto Allaily
Tentang Penulis: Nelayan dan Relawan Rumah Baca Titisan Agung Demang di Pulau Giliraja Sumenep Madura.

VIDEO PILIHAN: EKSPLORASI WISATA GRAND PATHEK SITUBONDO