Perayaan Citra-Citra Dalam Pemilu
Cari Berita

Advertisement

Perayaan Citra-Citra Dalam Pemilu

Minggu, 16 September 2018


Oleh : Achmad Nur

ARTIKEL (Ruangaspirasi.net) Sebagai warga suatu negara, masyarakat memiliki hak untuk menentukan pemimpin yang mampu membawa aspirasi, kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Selain hak, masyarakat juga memiliki kewajiban untuk mematuhi dan menjalankan kebijakan seorang pemimpin. Pada tahun 2019 rakyat Indonesia akan kembali memilih pemimpin mulai dari PILPRES hingga PILEG. Pagelaran di atas membuktikan bahwa rakyat telah diberikan kebebasan untuk menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia.

Ditengah kebebasan yang sudah lama berjalan, lahir beberapa masalah: pertama, dibidang kebijakan, pemimpin tidak lagi berpihak pada rakyatnya, kebijakan yang dilakukan kerap di luar prosedur, mendahulukan lobi dari pada negosiasi publik. Para Calon pemimpin acapkali melakukan segala cara untuk mendongkrak suara. Mereka tidak lagi berpikir bagaimana menyelesaikan problem  rakyat, melainkan hanya berpikir bagaiimana duduk di kursi kepemimpinan. Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa ketika calon pemimpin tersebut terpilih sebagai pemimpin maka akan berdampak pada kebijakan yang tidak berpihak pada kebutuhan dan kepentingan rakyat, melainkan hanya fokus menikmati ayunan kursi empuk kekuasaan.  Kedua, dibidang aspirasi, rakyat tidak lagi sebagai alat kontrol pemimpin, kebutuhan dan problem masyarakat hanya sebatas masukan yang hanya berada pada catatan kertas tanpa ada wujud nyata penyelesaian masalah. Rakyat yang seharusnya menjadi pemandu para wakil rakyat dan pemimpin, saat ini berbalik menjadi budak penguasa yang kerap menjadi penyalur hasrat atau kepentingan pribadi. Hal ini disebabkan, karena pada saat pemilu, kebebasan rakyat untuk memilih telah ditukar dengan uang. Akhirnya, rakyat bukanlagi subjek aktif melainkan objek pasif. Pada saat rakyat menjadi objek, maka tidak ada lagi kontrol sosial, rakyat akan mudah dikendalikan untuk memperlancar hasrat pribadi seorang pemimpin.

Potret inilah yang acapkali menggoda dan menggelitik penulis sebagai kader bangsa yang kerap bersentuhan dengan dunia keilmuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang konstruksi kesadaran yang di ciptakan dan dicitrakan oleh pelaku dan agen politik. Pertanyaannya adalah bagaimana kekuasaan bermain dalam mewarnai iklim politik. Tulisan ini diharapkan sebagai bekal untuk mereview pemilu yang telah selesai dan sebagai alat berpijak untuk mengawal pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan sebagai penentu masa depan bangsa dan negara republik Indonesia.

Beragam Cara Menguasai Masyarakat

Pertanyaan pertama dan utama yang berada pada seorang calon pemimpin adalah bagaimana agar masyarakat simpati dan empati terhadap apa yang telah dilakukannya terkait dengan pencalonan dirinya.  Pertanyaan tersebut menggiring pada suatu  strategi yang dimainkan. Dalam ilmu politik, strategi yang dimaksud akrab disebut sebagai propaganda. Menurut Ogburn dan Nimkoff, propaganda operates on the principle of the ideo motor suggestibility of person, the inclination to follow out more or less automatically the suggestions that are given. Artinya bahwa propaganda beroperasi pada gerakan mempengaruhi orang agar mengikuti apa yang disampaikan. Melalui propaganda, seorang CAPRES dan CALEG  membentuk panggung drama dalam memori masyarakat. Apa yang disampaikannya seakan akan merupakan kenyataan, dan kebenaran yang harus dikuti dan diakui kebenarannya. Dalam dunia film, propaganda kerapkali dimainkan oleh sutradara agar penonton larut dalam alur cerita yang dimainkan.

Agar tidak larut dalam permainan propagandis, setidaknya ada beberapa jenis propaganda yang perlu diketahui dan dipahami. pertama, name calling yaitu pemberian julukan yang buruk untuk menurunkan derajat seseorang. Misalnya: banyak para pemimpin tidak ubahnya dengan “lintah darat”, “antek asing”, Julukan inilah yang mencoreng citra baik seseorang. Kedua, Glittering generalities yaitu teknis penyampaian pesan dengan cara menggunkan kalimat kalimat sanjungan agung dan luhur. Misalnya, demi keadilan dan kebenaran, atau demi membela kaum tertindas, ketika saya terpilih akan mempersembahkan diri dan potensi saya untuk rakyat. Ketiga, transfer/testimonial yaitu gerakan penyampaian pesan dengan melibatkan pengaruh seorang tokoh yang berwibawa. Misalnya, jangan pandang  saya, tapi pandanglah beberapa tokoh karismatik yang mendukung saya. Keempat,  Plain Folk yaitu penyampaian pesan dengan memberikan identifikasi terhadap ide. Misalnya, saya mencalonkan sebagai CAPRES/CALEG bukan karena kehendak saya, tapi ini semua karena tuntutan rakyat. Saya sebagai rakyat, yang tunduk pada rakyat dan memperjuangkan nasib rakyat.  Kelima, card stacking  yaitu teknik penyampaiaan pesan dengan cara menampilkan sesuatu yang baik dari satu dimensi, sehingga publik hanya melihat apa yang dicitrakan. Misalnya, setiap hari saya selalu turun kebawah, bersama masyarakat untuk memperbaiki desa yang tertinggal. Keenam, bandwagon technique yaitu propaganda dengan cara meyakini kesuksesan yang akan dicapai. Misalnya, CAPRES/CALEG A pasti akan menang, karena 90 persen masyarakat telah berpihak padanya.

Berdasar pada bentuk propaganda di atas, tampak jelas bahwa seorang propagandis atau CAPRES/CALEG dalam menyampaikan pesan politik kerap menampilkan bahasa pencitraan yang mampu menghipnotis masyarakat dan menggiring para audiens kedalam dunia simulasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Roland Barthes yang mengatakan bahwa ”an image which argues draws from signs that are full, formed whit a view to the optimum reading" Menurutnya, citra sebagai sebuah lukisan tentang sesuatu yang sengaja ditampakkan guna untuk mempengaruhi, dan mengkaburkan pembaca. Dikatakan demikian karena citra adalah representasi, dan representasi erat kaitannya dengan ideology. Melalui representasi inilah pembaca dikaburkan dan dirangsang  untuk berimajinasi agar makna representator dengan mulus mempengaruhi dan merubah pola pikir dan tindakan seseorang. Beberapa konsep diatas telah banyak di praktikkan di masyarakat, Namun mayoritas masyarakat tidak menyadari kalau apa yang didengar dan dilihatnya merupakan konstruksi CAPRES/CALEG/propagandis yang bergerak dalam kehampaan (Nothing).

Penulis Adalah Wakil Rektor STAINH, Ketua Lakpesdam PCNU Situbondo dan Da’i Muda.