ERA DISRUPSI: Berubah atau Punah, Berevolusi atau Tertinggal?
Cari Berita

Advertisement

ERA DISRUPSI: Berubah atau Punah, Berevolusi atau Tertinggal?

Selasa, 01 Januari 2019

ERA DISRUPSI: Berubah atau Punah, Berevolusi atau Tertinggal?
Gambar Ilustrasi Era Disrupsi. 

ARTIKEL (Ruangaspirasi.net) "Berubah atau Punah, Berinovasi atau Tertinggal". Sebuah kalimat yang menyatakan kini dunia mengalami guncangan besar, seperti yang diilustrasikan Paul Gilding dan Francis Fukuya dalam bukunya "The Great Disruption".

Guncangan ini terbentuk akibat konvergensi teknologi informasi, sehingga meregenerasi setiap sistem yang ada dari bidang ekonomi, politik, social, dan pendidikan. Abad dimana sesuatu yang berbau zaman old diganti dengan zaman now, yang didalamnya terintegrasi dengan digitalisasi.

Kasali (2017) menyebutkan bahwa disruption adalah sebuah inovasi, yang akan menggantikan cara lama dengan cara baru. Perubahan cara lama ke cara yang baru ini terjadi ketika teknologi berevolusi membentuk suatu keefisienan pada masyarakat (Lasmawan, 2018).

Penulis analogikan era disrupsi ini seperti film Doraemon. Film yang dikarang oleh Fujiko F. Fujio yang berkisah tentang kehidupan anak pemalas “Nobita”, dibantu oleh seekor robot kucing dari abad ke-22 “Doraemon” dengan kantong ajaibnya. Kantong ajaib ialah kantong yang dapat mengambil alat dari abad ke-22 yang serba teknologi untuk membantu kebutuhan Nobita.

Seperti itulah era disrupsi, era dimana manusia ingin mengambil sesuatu yang diinginkan di era akan datang untuk digunakan pada era saat ini sebagai ke-efesiensi-an atau kebutuhan manusia sendiri. Lasmawan juga menyatakan bahwa disrupsi bukan sekedar fenomena hari ini (today), melainkan fenomena hari esok (the future) yang dibawa oleh para pembaharu ke saat ini (the present).

Satu pertanyaan kritis yang harus kita pertanyakan dalam hati ini, bagaimana kita sebagai masyarakat menanggapi suatu perubahan zaman/ era disrupsi ?


  1.  Jadilah pembaca online yang objektif, maksutnya mencari sumber informasi dari dunia internet harus valid, reliabel, konkret bukan editan “HOAX”,
  2. Jangan terlena dengan teknologi dengan menghiraukan interaksi sosial, ketika ingin bertemu orang terdekat tinggal WhatsApp, ketika ingin gado-gado tinggal Gojek, ketika ingin belajar tinggal tutoronline, nah dari itu diamana USAHA dan INTERAKSI SOSIAL kita? Seperti sebuah pisau, pisau tajam akan tumpul karena tidak pernah diasah. Seperti itulah kemampuan sosial kita jika tidak diasah akan rapuh. Rasa empati kepada orang lain, selaras dengan orang lain, peduli terhadap orang lain, semua rasa itu perlahan akan hilang.
  3. Upgrade logika masa lalu kepada logika masa kini dan masa depan, Andrias Harefa dalam bukunya Mindset Therapy, menyatakan sejatinya manusia dewasa belajar harus melibatkan tiga fase: learn, unlearn, relearn. Learn berkaitan dengan pembentukan pola pikir tertentu, unlearn adalah mendekonstruksi pola pikir yang sudah ada, sedangkan relearn berupa menata ulang alias merekonstruksi pola pikir yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman.

TENTANG PENULIS
Nama: Faisal Faliyandra, M.Pd
Profesi: Dosen STAI Nurul Huda sekligus pengamat pendidikan