PKC KOPRI PMII Bersama PW IPPNU Kalbar Gelar Dialog Gender Cegah Kekerasan dan Gerakan Radikal
Cari Berita

Advertisement

PKC KOPRI PMII Bersama PW IPPNU Kalbar Gelar Dialog Gender Cegah Kekerasan dan Gerakan Radikal

Sabtu, 18 Mei 2019

PKC KOPRI PMII Bersama PW IPPNU Kalbar Gelar Dialog Gender Cegah Kekerasan dan Gerakan Radikal
Dialog Gender Mencegah Kekerasan dan Gerakan Radikal PKC KOPRI PMII dan PW IPPNU Kalbar.

PONTIANAK, (Ruangaspirasi.net) Pengurus Koordinator Cabang Kalimantan Barat Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (PKC KOPRI Kalbar) dan Pengurus Wilayah Kalimantan Barat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU Kalbar), menggelar dialog sekaligus buka bersama yang dihadiri oleh Susianah Affandy, M.Si, Hadiri,SH  dan  Ir. Aulia arfiansyah Arief, M. Si, selaku pemateri. Kegiatan tersebut dilaksanakan di aula BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Provinsi Kalimantan Barat jl. Soedarso Pontianak. Jum'at (17/05/2019)

Dialog tersebut bertemakan tentang "Peran Perempuan dalam Pencegahan Kekerasan dan Gerakan Radikal Terorisme", yang bertujuan untuk menangkal kekerasan-kekerasan terhadap perempuan atau kaum gender.

"Kegiatan ini bertema, Peren Perempuan dalam Pencegahan Kekerasan dan Gerakan Radikal Terorisme" dengan tujuan agar para generasi muda bisa menangkal kekerasan terhadap kaum perempuan," ungkapnya Diah Indri Sari mewakil ketua KOPRI PKC Kalbar.

Diah juga menambahkan bahwa kaum Gender tidak hanya mencegah sebuah kekerasan saja, akan tetapi harus mencegah paham-paham  kaum radikal dan terorisme yang sangat membahayakan bagi kaum gender, dari itu perlu sebuah upaya untuk mencegahnya.

"Melalui dialog seperti ini, kami bisa memperkuat pemahaman tentang bagaimana cara mencegah sebuah kekerasan dan bahkan gerakan radikal terorisme", imbuhnya.

Susianah Affandy, M.Si menyampaikan,  bahwa kekerasan itu tetjadi tidak selamanya dilakukan oleh para penjahat.

"kekerasan yang sering terjadi saat ini bukan dilakukan oleh orang jahat seperti dulu, melainkan dilakukan oleh orang yang harusnya menjaga (orang dekat/keluarga/suami.dll)," terangnya

"Banyak faktor lain yg membuat kekerasan bisa terjadi, seperti kasus beberapa waktu yang lalu di pontianak mengalaminya, hal itu terjadi karena adanya chattingan yg beruntun sehingga ketika disampaikan ke orang yang berbeda isinya pun juga akan berbeda, itu yg menyebabkan pertikaian. Media jaman sekarang juga sangat berpengaruh, karena yg dulunya hanya bisa lihat di Televisi, tetapi sekarang  sudah bisa diakses melalui Handpone. Hal itu juga mempengaruhi pola pikir anak muda zaman sekarang,  karena mereka lebih mudah mengakses apa saja yang mereka inginkan termasuk film dewasa," jelas Affandy

Dalam kesempatan yang sama, Hadiri, SH juga menyampaikan, tentang cara hidup berkeluarga yang baik itu seperti apa.

"GenRe merupakan singkatan dari Generasi Berencana (GenRe), ketika kita memilih untuk menikah maka kita harus memiliki rencana yang matang untuk membangun sebuah keluarga. Salah satunya ketika kita memilih untuk menikah muda misalnya di umur 18 tahun, maka keinginan untuk memiliki anak haruslah ditunda terlebih dahulu sampai alat reproduksi wanita matang sekitar umur 21 tahun ke atas," paparnya

"Kita harus mempelajari menjadi orang tua yg baik, bisa kita download aplikasinya di playstore dengan keyword menjadi orang tua hebat. Jangan menikah tanpa rencana, karena itu hanya membuat kasus perceraian semakin bertambah karena tidak merencanakan menjadi keluarga yang baik dengan benar. Saatnya yg muda yang berencana," pungkas Hadiri

Hak yang senada disampaikan oleh Ir. Aulia arfiansyah Arief, M. Si. Mewakili kepala BKKBN Provinsi Kalbar, pihaknya lebih memfokuskan kepada keselamatan anak bangsa dimulai dari keselamatan dalam keluarga.

"BKKN memperkenalkan salam 3 jari (Sehat, Cerdas dan Ceria) atau yang dikenal dengan salam GenRe yg bermakna  Zero Tolerance pada 3 hal, yaitu: Sex bebas, Napza dan HIV Aids. Maka untuk menyelamatkan anak bangsa, kita harus menyelamatkan keluarga. Dimulai dari ketika makan bersama, di saat seperti itu peran keluarga dalam berkomunikasi dengan anak mudah diterima. Jangan pernah melakukan sex bebas jika ingin menikah tidak ada salahnya menikah muda namun jikan ingin memiliki anak maka harus ditunda terlebih dahulu sampai alat reproduksi telah siap," tutur Arief

"Di kalimantan barat hampir 25 % masyarakat yang terserang HIV yg disebabkan oleh sex bebas dan itu usia remaja, hal yang seperti ini yang tidak di inginkan," tambahnya

Acara dialog tersebut ditutup dengan Buka Puasa Bersama, yang dihadiri oleh puluhan kader KOPRI, IPPNU maupun kader PMII lainnya.

Penulis : Rokib