Tradisi Bubur Merah-Putih Desa Sungai enau A
Cari Berita

Advertisement

Tradisi Bubur Merah-Putih Desa Sungai enau A

Rabu, 02 Oktober 2019



Kubu Raya (ruangaspirasi.netTacin Merah "kata bahasa maduranya", sedangkan menurut bahasa Indonesianya adalah "bubur merah" yang merupakan tradisi diakukan oleh etnis madura di setiap bulan safar kalau menurut bulan kalender Hijriyah. Dan biasanya bertepatan pada bulan Oktober seperti tahun 2019 ini. Sebagaimana tradisi bubur merah-putih bertepatan dengan hari kesaktian pancasila yaitu pada 01 Oktober 2019 (01 Safar 1441 H). Namun selain itu, kali ini hanya kebetulan saja, bahwa tanggal 1 Safar bisa bersamaan dengan tanggal 1 Oktober, selasa (1/10).

Kemudian lamanya tradisi bubur merah-putih ialah selama 1 bulan penuh mulai dari tanggal 1 Safar hingga akhir bulan Safar.

Pada tradisi ini masyarakat terutama di pedesaan sangat antusias untuk melaksanakannya, karena tradisi tersebut merupakan warisan dari nenek moyang mereka.

Menurut, Sa'ur, S.Sos selaku Sekretaris Desa Persiapan Sungai Enau A Kecamatan Kuala Mandor B Kabupaten Kubu Raya mengatakan, bahwa tidak hanya tradisi bubur merah-putih saja pada bulan itu, akan tetapi juga diselingi dengan berbagai ibadah guna untuk keselamatan dunia maupun akhirat. Seperti halnya melakukan doa bersama pada setiap rumah yang sistemnya bergiliran antar rumah ke rumah.

"Doa-doa yg dibacakan antara lain: tawassul, al-fatihah, sholawat Nabi, kalimat-kalimat toyyibah dan diakhiri doa penutup. Semua itu di peruntukkan bagi keluarga, kerabat dan satu kampung yang sudah meninggal agar amal ibadahnya di terima oleh Allah dan juga doa keselamatan bagi keluarga, kerabat dan 1 kampung agar dihindarkan dari segala penyakit atau pun segala musibah yang akan datang," jelasnya.


Bubur merah-putih itu sendiri, lanjut Sa'ur, juga menjadi pertanda akan datangnya bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, karena setalah bulan safar akan memasuki bulan Maulid.

"Tradisi yang relejius ini merupakan hal yang di tunjukkan dengan sikap keagamaan yang sangat tinggi bagi etnis madura," bebernya.

Seusai melaksanakan doa bersama dari rumah kerumah warga ataupun masyarakat setempat mulai melakukan kebiasaannya, yaitu dengan membagi-bagikan bubur merah-putihnya kepada tetangga sebagai bentuk sadaqah dan salamatan dari warga itu sendiri.

Dengan demikian, Sa'ur mewakili dari aparatur pemerintah Desa mengharapkan agar tradisi tersebut terus berjalan. Karena Ia menilai dari tradisi tersebut menghadirkan nilai-nilai keagamaan yang tinggi bagi masyarakat pedesaan.

"Harapa saya tradisi ini dilanjutkan terus menerus karena sangat positif bagi nilai keagamaan masyarakat. Dengan seperti ini akan menunjukan karakter masyarakat yang penuh nilai keagamaan," tukasnya.

Rokib